Kehidupan di Media Sosial Tak Selalu Seindah yang Terlihat

Jangan mudah terpancing media sosial. Ki Somad berbagi filosofi sederhana tentang kebahagiaan, iri hati, dan cara bijak menyikapi hidup di era digital
Kehidupan di Media Sosial Tak Selalu Seindah yang Terlihat

Ki Somad duduk santai di saung kecil di belakang rumahnya. Saung itu sederhana, berdinding kayu, beratapkan jerami, dan hanya diterangi lampu LED yang mulai meredup. 

Di sekelilingnya, pohon jambu, pisang, dan kebun kecilnya menjadi saksi bisu obrolan-obrolan penuh makna. Udara senja sejuk, pas banget buat ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Tak lama, datanglah Rian, keponakannya yang baru lulus SMA, ditemani Tono, sahabatnya yang sering galau mikirin hidup. Rian membawa secangkir kopi hitam pahit buat Ki Somad, sementara Tono malah datang dengan wajah penuh tanda tanya, seperti ujian matematika yang belum selesai dikerjakan.

Pamer di Media Sosial

Setelah beberapa menit hanya diam menatap layar ponselnya, Tono akhirnya menghela napas panjang. Wajahnya tampak seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia lalu menoleh ke Ki Somad, yang masih asyik menyeruput kopi.

"Ki, kenapa ya orang-orang sekarang doyan banget pamer di media sosial?" tanyanya tiba-tiba, masih dengan ekspresi bingung. Di layar ponselnya, terpampang deretan foto teman-temannya yang sedang liburan ke luar negeri, membeli motor baru, atau sekadar memamerkan makanan mewah yang tersaji cantik di atas meja restoran mahal.

Ki Somad menyeruput kopinya perlahan, lalu menatap Tono sambil tersenyum. "Noh, lihat pohon jambu di depan itu. Kelihatan subur dan hijau, kan?"

Tono mengangguk, masih bingung ke mana arah tujuan kongko sore ini.

"Tapi kalau kau dekati, bisa jadi ada daun yang menguning, ranting yang patah, atau semut yang bikin rumah di sana. Begitu juga media sosial, Nak. Kita cuma lihat dari jauh yang bagus-bagusnya aja. Yang kurang bagus? Jarang ada yang mau nunjukin."

Rian yang sedari tadi menyimak, akhirnya buka suara. "Jadi, Ki, maksudnya yang diposting orang itu belum tentu merepresentasikan kehidupan mereka sebenarnya?"

"Bener! Ada yang posting kebahagiaan karena emang benar-benar bahagia, ada juga yang posting buat nutupin luka dan menghibur diri sendiri. Tapi yang baca atau ngeliat, belum tentu paham. Kadang kita malah jadi ngerasa hidup kita kurang, padahal hidup nggak selalu bisa dibandingin begitu aja."

Tono mendesah panjang. "Aku sering banget ngerasa ketinggalan, Ki. Teman-teman udah sukses, sementara aku masih begini-begini aja."

Kehidupan di Media Sosial Tak Selalu Seindah yang Terlihat

Ikut Bahagia atas Kebahagiaan Orang Lain

Ki Somad mengangguk pelan. "Itu manusiawi, Tono. Tapi jangan biarkan perasaan itu malah bikin kamu nggak berkembang. Dulu, ada seorang filsuf Yunani namanya Epictetus, dia bilang, 'Bukan kejadian yang bikin kita sedih, tapi cara kita melihatnya.' Jadi kalau kita lihat postingan orang lain, coba ubah sudut pandang. Bisa jadi itu bukan kesombongan, tapi bentuk syukur mereka. Bisa jadi mereka juga pernah ada di posisi kita."

Rian mengangguk-angguk paham. "Tapi, Ki, kalau kita iri, itu wajar nggak sih?"

Ki Somad tertawa kecil. "Iri itu kayak api. Kalau sedikit, bisa buat kita semangat, tapi kalau kebanyakan, bisa membakar diri sendiri. Daripada iri, lebih baik kita belajar dari mereka, lihat apa yang bisa kita tiru buat jadi lebih baik."

Tono termenung. "Jadi, kita nggak boleh buru-buru nge-judge ya, Ki?"

"Nah, itu dia! Yang posting kebahagiaan, belum tentu sombong. Yang kelihatan tenang, belum tentu tanpa masalah. Hidup ini nggak melulu soal pamer atau nggak, tapi soal gimana kita menyikapi semua yang ada."

Hidup ini nggak melulu soal pamer atau nggak, tapi soal gimana kita menyikapi semua yang ada

Malam makin larut, suara jangkrik mulai mengisi keheningan. Ki Somad menatap langit sore yang mulai memantulkan warna jingga. "Kita semua punya waktu masing-masing, Nak. Ada yang hari ini sedang berjaya, ada yang masih berjuang. Kalau kita lagi di atas, jangan lupa lihat ke bawah dan bersyukur. Kalau kita lagi di bawah, jangan buru-buru ngerasa semua orang lebih beruntung."

Rian tersenyum. "Jadi, Ki, intinya kita harus bisa atau paling tidak mencoba memahami sudut pandang orang lain, ya?"

Ki Somad mengangguk. "Iya. Kayak kata pepatah Jawa, 'Memayu hayuning bawana'—jaga harmoni dunia, termasuk menjaga perasaan sesama. Kalau kita bisa ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain, hidup jadi lebih ringan."

Obrolan pun berakhir, tapi maknanya masih menggema di hati Tono dan Rian. Mereka pulang dengan pikiran yang lebih lapang. Sementara itu, Ki Somad tetap duduk di saungnya, menyeruput kopi yang kini tinggal ampas, menikmati senja yang pelan-pelan berubah jadi malam.

Di zaman sekarang, banyak orang berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik di media sosial—senyum, kesuksesan, atau pencapaian. Tapi yang lebih penting sebenarnya bukan apa yang kita lihat di layar, melainkan apa yang benar-benar mereka rasakan di dalam hati. 

Hidup itu seperti kebun kecil Ki Somad. Ada pohon yang hijau dan subur, ada daun yang mulai menguning, bahkan ada yang layu lalu gugur. Mereka semua tetap tumbuh, tanpa perlu teriak-teriak menunjukkan bahwa mereka masih bertahan. Begitu juga dengan manusia—kita semua punya proses masing-masing, dan itu nggak semuanya harus diumbar di dunia maya.


Posting Komentar

No Spam, Please.